Mulai kemarin kelas Bahasa Jawa dibuka untuk muda-mudi. Ini adalah tindak lanjut cerita yang kemarin.
Harus diakui, dua anak itu sudah membuat perubahan. Aku menanyakan identitas dua orang ini ke temen-temenku. Tapi gak ada satu pun yang tahu. Jadi mereka tetaplah sebuah misteri haha. Padahal aku mo ngucapin terima kasih ke mereka.
Karena mereka, orang tergerak untuk nguri-uri (aku lupa padanan bahasa Indonesianya) basa jawa, ruhnya kebudayaan Jawa (kata yang lebih pinter sih gitu).
Sebelum kelas Bahasa Jawa mulai, udah dikasih tahu suruh bawa buku. Dan aku dengan nyungnyungnya langsung bilang ke Rahma, “Ntar aku pinjem catetanmu aja ya.”
“Emang gak bawa buku?”
“Gak. Kertas aja gak. Enakan fotokopi.” ![]()
“Kebiasaan.”
“Eh Ma, ini nanti ada ujiannya juga yah?”
“Masa sih? Kaya sekolah aja.”
“Abis ada catet mencatetnya.”
Hehe jadi keingetan jaman SD doeleoe. Pas ulangan bahasa Jawa bab Krama Inggil di sekolah.
Waktu SD, bahasa krama inggilku masih fresh. Jadi lancar-lancar aja mengerjakan semua soal kecuali satu. Krama inggilnya ‘dua puluh empat’.
Aku sih ingetnya selangkung, krama inggil ‘dua puluh lima’. Alasannya simpel. Karena dua lima adalah satuan mata uang yang waktu itu masih bisa buat beli jajan. Gila, sejak kecil aku udah sendu (seneng duit) gitu haha…
Tapi kan gak mungkin aku jawab selangkung kirang setunggal (dua lima kurang satu) meski hasilnya dua puluh empat. Secara ini pelajaran bahasa Jawa, bukan matematika.
Stuck lama mikir satu soal itu. Sampe akhirnya aku memutuskan untuk jawab kalih dasa sekawan. Logikanya gini. Kalih dasa adalah krama inggil dua puluh. Sekawan krama inggil empat. Selesai sudah.
Merasa pinter, aku duduk tegak dengan senyum penuh kemenangan. Aku lihat temenku yang lain masih pada nunduk mikir.
Temen di sebelahku nanya jawaban soal dua empat. Karena aku adalah anak baik hati, gemar menolong, dan gak sombong (cuma narsis dikiiiit
), aku kasih lah jawabanku ke dia. Dan jawaban itu didistribusikan ke seluruh kelas. Wajah-wajah kecil di kelas itu langsung sumringah. Ketauan mereka juga stuck di soal yang sama.
Kertas ulangan dikumpulkan. Si bapak guru lihat sekilas kertas-kertas itu satu per satu sambil senyum-senyum. Ngeliat senyumnya, perasaan ada yang gak bener.
Bener aja. Ketika kertas terakhir telah dilihatnya, si bapak bilang, “Jawaban soal dua puluh empat salah semua. Jawaban yang benar adalah sekawan likur.”
Langsung… tatapan penuh cinta (aih hiperbolis pisan
) dari anak-anak sekelas padaku, berubah menjadi tatapan bengis. Aku dengan tampang polos cuma bisa meringis
.
