“Hai orang Indonesia, ada apa dengan bahasa Indonesiamu?!”
Katarak dini lihat tulisan dengan huruf besar kecil yang dicampur aduk kaya gini, ‘ENDI alMATe yANg kAU jaNjIkaN pADA qUw kMARAEn????’. Parahnya, kayanya gaya menulis seperti itu udah jadi trademark anak-anak ABG. Suit, kayanya aku butuh kacamata.
Gemes ketika baca buku yang kaidah tata bahasanya ampun deh. Alih-alih menulis kata MAU dengan huruf U, penulisnya nulis pake huruf O. Lebih geregetan lagi karena kesalahan-kesalahan cemen macam itu dibiarkan tetap bercokol di sana oleh editor buku yang berjumlah DUA orang itu. Bo… lo kerja gak sih? (Oh tidak. Aku gak akan kasih judul bukunya, apalagi majang nama penulisnya. Secara ini bukan black marketing.)
Juga… penggunaan awalan ‘di’ dan ‘ke’ yang suka asal pake aja. Tanpa mengindahkan bahwa sebagai awalan, kedua kata itu harus ditulis terpisah, bukan disambung yang kemudian menjadikan kata tersebut menjadi imbuhan, yang mana imbuhan itu punya arti sendiri.
Who can say for certain
Maybe you’re still here
I feel you all around me
Your memories so clear
Are you gently sleeping
Here inside my dream
And isn’t faith believing
All power can’t be seen
And I believe
That angels breathe
And that love will live on and never leave
I know you’re there
A breath away’s not far
To where you are
Masjid rame euy. Gak heran sih. Secara bulan Ramadhan gitu loh, bulannya tobat hehe. Kalo biasanya di masjid ketemu sama muka itu-itu aja, sekarang ada muka-muka baru khususnya untuk acara solat Isya dan tarawih.
Dari masa ke masa, solat tarawih selalu punya banyak cerita. Yang seru tuh pas masih kecil. Masih belum mikir banyak tentang dosa. Jadi wae solatnya banyak becandanya. Mulai dari gencet-gencetan sampe injek-injekan kaki sambil solat. Astaghfirullah.
Dulu pas masih jadi anggota ‘angkatan darat’, aku pernah solat di barisan cowok. Lengkap dengan atribut sarung dan peci. Sangar kan?
Gedean dikit, kelakuan masih sama. Bedanya, kalo pas agak kecilan ketawanya rada kenceng, sekarang rada pake sopan santun. Cukup cekikikan aja. Tapi tetep kalo inget musti nyebut, astaghfirullah.
Pas ABG, udah agak insap. Udah banyak diemnya walo kadang cekikikannya keluar juga. Soalnya umur-umur segini udah ada yang melototin kalo bikin onar.
Jaman nguli di Bandung, suka nelat berangkat ke masjidnya. Kongkow dulu di tangga sembari becanda becandi. Kalo imam udah tereak Allahuakbar, baru deh gerabak-gerubuk lari. Tapi khusus kalo yang jadi imam pak Gun, lari-larian itu tidak terjadi. Secara kita apal kalo bapak satu ini bacaan suratnya puanjang. Jadi masih bisa lah dipake cekakak cekikik sekali dua kali dulu hihi… Astaghfirullah lagi.
Diinget-inget lagi, ternyata tarawih itu identik dengan panas. Dulu kupikir di Bandung yang hawanya sejuk segar itu gak akan ngerasa panas. Ternyata panas juga. Apalagi di Madiun yang emang tempatnya panas.
Maka jangan heran kalo pada rebutan berdiri tepat di bawah kipas angin. Well, yang gontok-gontokan cuman aku dan Ike sih kemarin :D. Dan dia memenangkan hotspot itu selama solat Isya dan tarawih. Pas solat witir dia berhasil kugeser dikit.
Imam udah mulai solat. Aku udah ngikut solat. Si Ike yang berdiri di sebelah kiriku masih sibuk ngutak-atik gak tahu apa di kipas angin.
TRAKTAKTAKTAK….
Tiba-tiba kipas angin itu mengeluarkan bunyi keras. Refleks aku langsung jongkok, melindungi kepala dengan tangan (kipas angin itu tepat di atas kepalaku!), dan dengan sepenuh hati nyela Ike, “Bodoh!”
“Tiarap!” ledek Ike sambil cekikikan ngeliat reaksiku. Selang sedetik dari batalnya solatku, Revi di sebelah kananku juga ikutan ketawa. Bertiga mati-matian nahan ketawa di solat terakhir ini.
Setelah sekian lama, masih aja…. Astaghfirullah.
Bukan cinta sembarang cinta. Ini cinta Yang Maha Segala.
Btw, ada yang ngerasa juga gak, kalo di bulan puasa itu hawa dan rasanya beda? Lebih berasa, berasa lebih. Karena nikmat dan rahmat yang dicurahkanNya kali ya.
Ritual tarawih dimulai. Tadarusan juga dimulai. Eh tadarusan ya… Budok, ntar kalo ayat yang harus kusimak hilang, aku nanya siapa? (ketauan suka gak fokus :p)
All and all, aku mo bilang, “Marhaban ya Ramadhan.”

Desember 2008 bakal diluncurkan film dengan judul Drupadi.Ngeliat siapa-siapa aja yang gabung di film ini, hayo siapa yang berani bilang ini bukan film yang menjanjikan?
Riri Riza (sutradara), Mira Lesmana (produser), Leila Chudori (penulis skenario), Dian Sastrowardoyo (produser sekaligus pelakon Drupadi), Nicholas Saputra (Arjuna), Dwi Sasono (Yudhistira), Butet Kertarejasa (Sengkuni).
Komen seputar film Drupadi dari para pembuatnya :
Riri Riza : “Jika melihat kisah Drupadi, sangat relevan dengan persoalan masa kini. Drupadi memiliki peran yang besar dalam kisah Mahabharata. Dia mempertanyakan banyak hal, tetapi di kemudian hari dia menjadi barang taruhan. Dia menggugat dengan caranya sendiri dan terus mencari keadilan hingga akhir cerita.”
Dian Sastro : “Sosok Drupadi adalah simbol dari perjuangan perempuan yang menolak dijadikan komoditas dan selalu bertindak untuk memanusiakan dirinya.”
Sneak Peak Karakter Utama ————————————————————>
DRUPADI ( Dian Sastrowardoyo)
Drupadi digambarkan sebagai wanita paling jelita di jagat yang lahir dari api. Dalam Mahabharata, karakter Drupadi sangat menonjol selain karena kecantikannya, ia juga sangat cerdas, berani dan tak segan mengungkapkan pendapatnya. Drupadi melawan saat dirinya dijadikan barang taruhan.
Hingga akhir cerita, Drupadi terus mencari keadilan saat perang Bharatayudha.
YUDHISTIRA (Dwi Sasono)
Putera Dewi Kunti dan Betara Dharma yang memiliki sifat sangat bijaksana. Sabar, tak pernah membunuh, tak pernah ikut perang,dan baik hati. Kelemahannya hanya satu: gemar bermain dadu dan gampang ditipu.
BHIMA (Ario Bayu)
Putera dari Dewi Kunti dengan Betara Bayu yang bertubuh besar dan kekar, nyaris menyerupai raksasa. Ia sangat sakti, jujur, setia namun juga garang dan pemarah. Bhima tidak pernah menyembah siapapun, termasuk terhadap dewa.
ARJUNA (Nicholas Saputra)
Putera Dewi Kunti dengan Betara Indra. Paling tampan di seluruh jagad, sakti dan ahli memanah. Adalah Arjuna yang memenangkan Drupadi dalam pertandingan busur, tapi kemudian Drupadi dipersembahkan kepada seluruh Pandawa. Arjuna adalah putera Pandawa yang paling dicintai Drupadi.
NAKULA (Aditya Bagus Santosa)
Putera kembar Dewi Madrim dengan Batara Aswin. Berkekuatan 100 tenaga manusia.
SADEWA (Aditya Bagus Sambada)
Sadewa adalah putera Dewi Madrim dengan Batara Aswin. Ia saudara kembar Nakula dan bungsu dari Pandawa. Mempunyai kepandaian 100 cendekia dan bijak bagai 100 resi.
ADIPATI KARNA (Donny Alamsyah)
Adipati Karna adalah kakak tiri Pandawa. Ia putera Dewi Kunti dengan Batara Surya. Saat itu Kunti masih remaja, tak sengaja ia memanggil Dewa dengan sebuah mantra dan terjadilah percintaan yang membuahkan Karna. Karena saat itu Kunti masih belia, Karna dibuang di sungai Gangga dan diangkat anak oleh pasangan sais kereta di Hastina, kerajaan tempat Kurawa memerintah. Karna diangkat sebagai Adipati dan menjadi bagian Kurawa. Kelak dalam perang Baratayudha, ia berperang membela Kurawa dan melawan adiknya sendiri, Arjuna.
SUYUDANA (Whani Darmawan)
Suyudana adalah raja Hastinapura, ia putera Prabu Destarata dan Dewi Gandari, tertua dari 100 bersaudara. Seratus bersaudara ini dikenal dengan nama Kurawa. Kejam, penuh kedengkian dan selalu iri dengan apa dimiliki para sepupunya, Pandawa.
DURSASANA (Djarot B. Dharsono)
Putera kedua Kurawa, berwajah raksasa, gemuk, keji dan mengerikan. Dalam permainan dadu di mana Drupadi dipertaruhkan, Dursasana diperintah untuk mengambil Drupadi. Karena Drupadi menolak, Dursasana mempermalukan Drupadi dan berusaha memperkosanya di hadapan seluruh Kurawa.
PATIH SENGKUNI (Butet Kartaredjasa)
Sengkuni adalah paman Kurawa, adik dari dewi Gandari. Ia bersifat licik dan penuh muslihat. Arsitek manuver Kurawa adalah Sengkuni. Permainan dadu yang kemudian kelak membawa kedua kelompok sepupu ini kepada sebuah peperangan terbesar di jagad ini, adalah Sengkuni agar semua yang dimiliki Pandawa berpindah tangan. Konon dadu Sengkuni terbuat dari tulang-tulang manusia.
