Pas lagi konsen nyimak penjelasan Pak Isnadin, Linta ngelempar kertas. Kertas itu jatuh di depan Wiwin jadi aku anteng aja. Baru ngeh kalo kertas itu ditujukan padaku ketika Wiwin menyodorkan kertas tadi padaku.
“Mbak, sampean cinta Indonesia toh?” Bunyi tulisan di kertas. (”Mbak, kamu cinta Indonesia ya?”)
Aku bales, “Ya iyalah aku cinta Indonesia. Cinta mati.”
Kepalaku mulai dibanjiri kemungkinan-kemungkinan alasan kenapa Linta menanyakan hal ini. Tapi aku tahan tanda tanyaku dengan tidak bertanya kenapa padanya. Karena aku tahu dia akan mengatakannya tanpa diminta. ![]()
Dan alasannya adalah, “Aku mau krungu sampean nyanyi lagu kebangsaan. Semuangat. Aku ngasi ngguyu kekelen ning jedhing.” (”Aku tadi denger kamu nyanyi lagu kebangsaan. Semangat banget. Aku sampe ketawa ngakak di kamar mandi.”)
Aku jawab, “Wah yo ra bener ki. Krungu lagu kebangsaan kok malah ngguyu kekelen. Kudune ki sampean ambil posisi badan tegak, silangkan tangan di depan dada dengan khidmat.” (”Wah gak bener nih. Denger lagu kebangsaan kok malah ketawa ngakak. Mustinya kamu ambil posisi badan tegak, silangkan tangan di depan dada dengan khidmat.”)
Hahahahha….
Pembahasan selesai sampai di sini. At least aku beranggapan begitu. Aku keluar ruangan untuk bantu-bantu mempersiapkan acara makan-makan.
Pas acara makan, pas temen mudi-mudi kumpul lagi, Linta dengan semangat menceritakan pendengarannya tadi ke semua orang di situ. Ya ya ya… dia menganggap menyanyikan lagu kebangsaan adalah sesuatu yang abnormal. Dan dia punya bakat untuk membuatnya terdengar memalukan.
“Sampean mau gawe ciduk dinggo mic yo?” tuduh Linta. Linta menegakkan badan, tangan menghormat, mendendangkan, “Bendera merah putih. Bendera bangsaku.” (”Tadi kamu pake gayung sebagai mic ya?”)
“Salah,” sahutku. “Aku mau ra nyanyi kui kok.” (”Aku tadi gak menyanyikan lagu itu kok.”)
Sesi tebak lagu yang tadi kunyanyikan pun dimulailah. Kata kuncinya “bendera”. Dan mereka tetap tak menemukan jawaban yang benar. Benar-benar payah kemampuan lagu kebangsaan mereka. Berapa banyak sih lagu kebangsaan yang menceritakan bendera?
“Wis kono ndang ditesti,” kataku. (”Buruan testi noh.”)
Itu murni dimaksudkan untuk olok-olok. Tapi aku sadar kalo aku kasih inspirasi buat mereka ketika Fisa langsung menyahut, “Yo yo ngko tak testi. Pembalasan.” (”Ya nanti aku testi. Pembalasan.”)
“Weits. Pembalasan apa iki?” (”Weits. Pembalasan untuk apa?”)
“Testi ‘tak gawa mulih’ kae.” (”Testi ‘aku bawa pulang’ kemarin.”)
“Yaoloh meuni dendem pisan.” (”Yaoloh kok dendam banget sih.”)
“Ben.” (”Biarin”)
“Ah yo… Tak lebokne buletin barang ngko. Ben diwaca sak Indonesia,” sahut Linta menanggapi olok-olokku. (Oh ya… Nanti aku masukkan buletin juga. Biar dibaca seluruh Indonesia.”)
“Gak enek sing maca buletin. Wong isine ra ana sing penting wae,” jawabku. (”Gak ada yang baca buletin. Orang isinya gak ada yang penting.”)
“Mbak, aku gawene maca buletin lho,” Wanda ikut nimbrung. (”Mbak, aku suka baca buletin lho.”)![]()
ASEM!
Catet Saudara-saudaraku, walau kalian ngolok-ngolokin aku sepanjang hidup pun, aku gak malu telah menyanyikan lagu kebangsaan. Merah warna darahku, putih warna tulangku. Kurang Indonesia apa coba?
