dari yang sepele sampe yang gak penting
<

Ini masih cerita hasil jalan-jalan di Expo hari jadi Madiun ke-90 bareng ama Yuda, Revi, Linta, Rahma, Rizki, mbak Dina. Abis main-main, kami lihat-lihat stand yang ada di sana.
Di depan sebuah stand, Yuda narik tanganku untuk masuk. Ternyata dia tertarik lihat maket SMP 7 yang dipamerkan di stand SMP Negeri Madiun. Yuda asik lihat maket, aku lihat patung-patung lempung buatan anak-anak SMP 3.
Aku manggil mbak Dina. Ketika orangnya udah deket, “Cocokin muka dulu,” kataku sambil deketin patung lempung bentuk munyuk.
“Enak aja,” sungut mbak Dina.
“Itu contoh anak yang sekolah di SMP 3,” komen Rizki.
“Sembarangan. Anak SMP 3 keren-keren lagi,” belaku. Yah paling gak dulu begitu pas aku sekolah di sono hehe.
Puas lihat-lihat dan muji karya buatan anak-anak SMPN 6, kami lanjutkan perjalanan.
Angka 3 selalu menarik mata dan minatku. “SMA 3,” kataku sambil belok ke stand SMA Negeri Madiun. Memicu ingatanku mengenang suatu masa yang disebut di sebuah lagu yang berbunyi, tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. “Kerrreeeennn.”
“SMA 2 dong,” kata Rahma.
“SMA 3 tetep di depan,” kataku.
“SMA 2 di sini ada dua loh,” sahut Rizki nunjuk dirinya dan Rahma. “Kamu SMA 3 sendirian.”
“Biar sendirian tapi lihat dong… Yang dipajang di depan sendiri adalah SMA 3. Di mana-mana front row itu paling keren.”
Gini nih kalo orang-orang yang narsis ama almamater masing-masing barengan. Tapi kalo aku bilang SMA 3 yang terdepan, itu fakta dan itu nyata. Bukan congkak bukan sombong nih, SMA 3 standarnya udah internasional. Satu-satunya di karesidenan Madiun.

June 30th, 2008 at 3:09 am and tagged ,