dari yang sepele sampe yang gak penting
<
  1. Tanya diri Anda, apakah Anda cantik, ganteng, pintar, kaya, bisa ini, bisa itu. Kalau salah satu saja tak terpenuhi, mbok mulutnya dibungkam saja.
  2. Lihat “halaman rumah” Anda sendiri. Apakah halamannya kotor atau bersih, dipelihara atau tidak, sebelum Anda memberi komentar atas ’halaman rumah’ orang lain.
  3. Hapuskan perasaan iri yang menguasai hati Anda. Kritik atau komentar bisa disampaikan, tetapi dengan hati yang bersih tanpa ada udang di balik batu. Dan kalau menyampaikan kritik, tak perlu esmosi, biasa saja seperti sedang mengobrol. Kalau tak bisa, coba Anda membayangkan Anda yang dikritik dengan suara tinggi. Mau tak? Tak, bukan?
  4. Memilih cara mengungkapkan kritik atau hinaan dengan cara lebih halus dan tidak menyinggung perasaan. Misalnya, “Wah… Mas, pas banget pakai kemeja merah muda. Kulit Anda kelihatan cemerlang dan Anda kelihatan guanteng dibandingkan pakai kemeja putih.” Daripada mengatakan, “Elo jelek Mas, pakai kemeja putih. Ganti deh ama yang pink, jadi kulit Mas yang bluek itu jadi lebih cemerlang.” Kata teman saya. “Enggak enak kalau enggak ada suara tingginya. Jadi, enggak kerasa gereget kritiknya. Ntar malah curhat lagi….”
  5. Tanya apa untungnya buat Anda setelah melakukan penghinaan? Teman saya berkomentar lagi, “Enggak ada untungnya sih buat gue, cuma rasanya puaaaasssss gitu loh!” Ia melanjutkan, “Berarti ada untungnya buat gue ya, bo. Akika puas tuh.” Akika itu artinya saya.
  6. Pikirkan betapa untungnya ada orang geblek di sekitar hidup kita, jadi yang pintar bisa tak punya saingan. Kata teman saya lagi, “Paling enggak ada yang bisa buat dihina ya, bo.” Bayangkan saja bila semua orang pintar, apa jadinya dunia ini? Maka, seperti cerita Pandawa dan Kurawa, saya selalu berpikir, kalau jadi salah satu anggota Pandawa, saya akan berterima kasih kepada Kurawa. Karena kejahatan mereka begitu dahsyatnya, kebaikan saya jadi terlihat sama dahsyatnya. Bayangkan, kalau Kurawa baik banget seperti Pandawa, apalah hebatnya kebaikan Pandawa?

Samuel Mulia

February 24th, 2008 at 9:14 pm