“Tadi nelepon gue?”
“Gak.”
“Ini tadi ada 7 misscall dari nomor yang gak keliatan. Biasanya kan elo.” Dih, langsung nuduh.
“Sumpe, bukan aku.” Meski biasa off-in my caller identity, aku gak suka ngisengin orang. Secara aku biasa pedes banget ke orang gak jelas yang ngisengin aku di hape.
“Cuma mo dengerin i-ring gue aja kali ya?”
“Hahahaha….akhirnya kamu ngerasain juga.”
Maaf, Ci. Bukannya tertawa di atas penderitaanmu, tapi seneng menemukan teman senasib sepenanggungan yang ngerasain gimana betenya di-misscall-in gara-gara i-ring
.
Masih mending cuma 7 kali misscall. Aku di-misscall sampe batere hapeku drop. Pas teleponnya diangkat, yang sana bilang, “Mbak, jangan diangkat. Aku pengen dengerin lagunya aja.” Gubrak!!!
Karena kejadian ini berulang di hari lain, aku coba ngomong ke si penelepon i-ring bahwa aksinya bikin aku terganggu dan otomatis naik darah. Tapi karena omongan baik-baik gak menghentikan aksi telepon i-ring, tindakan ekstrim harus diambil. Stop layanan i-ring!
Jadi kesimpulannya, bukan i-ringnya yang ganggu. Tapi orang yang nelepon cuma karena pengen dengerin i-ring, dia nih pengganggunya.
Buat penelepon i-ring, mbok ya sadar kalo aksimu tuh masuk kategori teror. Buat yang kemarin misscall Chirenk ampe tujuh kali, kamu utang maaf ma aku.
*yang abis nyemprot orang gak jelas yang misscall-in meski udah gak pake i-ring
